Mau bagi-bagi pengalaman sedikit nih.

Kejadian ini berlangsung pada hari Sabtu, 15 September 2007 yang lalu. Kebetulan, hari itu saya mengantarkan ibu ke Rumah Sakit MMC di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan dengan menggunakan mobil Honda New Civic, mobil baru :D

Karena pengurusan STNK yang belum beres, dealer tempat kami membeli mobil tersebut memberikan plat nomor tahun 2002. Entah matanya yang jeli atau apa, seorang polisi dengan getol memperhatikan plat mobil kami tersebut dari belakang sambil mengendarai motornya. Ia menyalip ke depan mobil kami dan memberikan isyarat tangan untuk menepi. Walau kebingungan, kami toh tetap menurutinya.

Polisi 1 : Siang, Bu.

Ibu : …. Siang. Ada apa nih, Pak?

Polisi 1 : …. Mobil Ibu saya tahan.

Ibu dan saya : Ha?Kenapa memangnya, Pak?

Polisi 1 : Ibu pakai plat nomor yang salah.

Ibu : Wah, saya nggak ngerti begituan tuh, Pak. Ini kan dikasih sama dealer yang jual mobil ini ke saya!

Polisi 1 : Yaa, saya nggak mau tahu itu, Bu. Ibu bisa selesaikan urusan Ibu sama Dealer itu setelah kami tahan mobil ini.

Mendengar si Polisi ini ngomong seperti itu, sontak membuat Ibu saya kehilangan kesabaran. Saya sih diam saja, saya malas marah-marah di bulan Ramadhan ini. Ibu saya? Sedang tidak puasa kok.

Ibu : Nggak bisa gitu ‘lah! Kamu tahu nggak hari ini hari apa? Memangnya dealer hari gini buka? Mikir dong! Sudah, saya mau praktek nih! Kalau pasien saya ada yang luka parah sampai mati, Bapak mau tanggung jawab?!

Polisi 1 : Tidak bisa begitu, Bu. Ini harus diproses dulu baru Ibu bisa pergi dari sini.

Saya dan Ibu : What?!

Polisi : ….Ya sudah, Ibu mohon ikut ke pos kami dulu. Disana Ibu bisa melanjutkan penjelasan Ibu.

Ibu : Ih, males banget!

Ibu saya langsung banting setir (kebetulan kami disetop dekat tempat untuk berputar jalan) ke arah MMC. Sebelum tancap gas, Ibu saya sempat menjulurkan lidah ke arah polisi itu.

Ibu : Begini nih Polisi yang sok tahu! Disumpahin satu kampung baru tau rasa kamu!

Polisi 1 : Biarin! Yang penting saya bener!

Dan iapun membalas juluran lidah Ibuku. Sejujurnya, pada saat itu saya mengira kalau mereka berdua kayak anak kecil.

Saya menoleh ke belakang dan ternyata rekannya yang lain mengikuti kami dari belakang.

Saya : Mah, gimana nih?

Ibu : Halaah.. Nggak usah dipikirin, Mama nanti mau telepon Oom Banu! Kamu diem aja!

Oom Banu adalah saudara jauh keluarga kami yang kedudukannya cukup berpengaruh di Kepolisian.

ANYway, kami belok masuk ke dalam rumah sakit dan begitu pula kedua motor itu. Kami parkir dan dia langsung menghampiri kami.

Polisi2 : Maaf, Bu. Kami diperintahkan untuk mengikuti Anda sampai kesini. Mohon Ibu bisa ikut bekerja sama.

Kayaknya polisi ini lebih baik dari yang tadi. Lebih waras, setidaknya. Walau begitu, sepertinya Ibu saya tidak terlalu memerdulikannya. Alih-alih menyahutinya, Ibu malah menekan-nekan tombol di ha-pe. Kami (Saya dan si Polisi) terdiam.

Ibu : Ah, halo. Banu? Gimana kabarnya? Eh, iya nih. Tau aja saya lagi ada masalah. Ini nih… Blablabla… (menceritakan kronologi kejadian dengan cukup akurat, walau ada juga yang dilebih-lebihkan)

Lucunya, si Polisi itu turut mendengarkan percakapan Ibu saya sambil mengangguk-angguk tanda setuju. Kayaknya dia memang sadar rekan kerjanya itu salah.

Ibu : Heh, ini atasanmu mau ngomong.

Polisi 2 : Ah, makasih, Bu. Yak, SIAP, PAK! Begini, jadi Ibu it..

Belum juga ia menjelaskan kronologi kejadian versinya…. (Yah, sebenarnya kurasa yang mau diceritakannya juga nggak jauh beda dari yang diceritakan Ibu saya. Toh sepertinya dia jujur)

Polisi 2 : Ta, tapi, Pak…. Ibu itu sud… Ah, iya! SIAP, PAK! SIAP, PAK! SIAP, PAK! SIAP, PAK!

Saya baru tahu kalau kode dalam percakapan polisi sangat monoton. Apa sebegitu berharapnyakah mereka agar maksud aslinya tidak diketahui atau apa? Entahlah.

Ibu : ….. Jadi? (dengan seringai lebar)

Polisi 2 : Ya, pokoknya, Bu.. Kalau mau berkendara, lihat semua kelengkapannya, Bu. Saya tahu Ibu tidak salah, tapi Ibu juga seharusnya…

Ibu : Iya, iya~ Bisa saya kerja sekarang?

Polisi 2 : Ah, iya, Bu. Maaf mengganggu Anda. Hal ini akan saya laporkan pada rekan saya nanti. Selamat sore.

Ibu : Bagus, kalau begitu.

Setibanya di dalam, Ibu saya mendengus kesal.

Saya : ? Kenapa, Mah?

Ibu : Ah, enggak.. Coba tadi Mama telepon Oom Banu pas di depan si brengsek itu, ‘kan Mama bisa tambah ngeledekin dia lebih parah lagi.

Kayaknya sih memang benar, Ibuku masih kurang bahagia waktu masa kecilnya dulu.