Watakushi

 ” Saya disuruh belanja makan malam. Saya melihat komik baru sudah terbit dan edisinya terbatas. Mana yang lebih penting?”

Topik ini baru terpikirkan beberapa saat yang lalu.

… Tidak, sebenarnya ini juga sudah kupikirkan cukup lama juga.

Hem, begitu kusadari, sekarang ini aku sudah kelas 3 SMA dan tidak sampai sembilan bulan lagi sebelum penentuan masa depanku. Tapi aku dengan hebatnyadengan bodohnya belum menentukan skala prioritasku sendiri. Semua yang kulakukan masih berdasarkan pada mood, keinginan, dan intuisi pada saat itu juga. Dimana, kupikir itu bukan pola pikir yang baik.

Tidak berkemampuan menentukan skala prioritas, seperti yang saya telah ketik diatas; membuat saya mengerjakan sesuatu (yang dua diantaranya bahkan ada tenggat waktunya!) dengan seenaknya. Satu diantaranya bahkan sudah terlambat satu bulan dari rencana awal.

Penentuan skala prioritas ini sebenarnya sudah sangaaaat sangaaaat lama sekali kurencanakan. Tapi, entah mengapa sepertinya tidak pernah berjalan dengan lancar.


————————————————————-

Contoh konkrit -1- :

Saya : Oossh! gw belajar sekarang, belajar!

Teman : Re, ke kantin depan yuk. Internetan.

Saya : Aaah, males. Mau belajar nih,gw. Besok kan ada remedial.

Teman : Ya elaah, ngebet aja kali’, susah amat?

Saya : …… Oke deh.

————————————————————-

Contoh Konkrit -2- :

Saya : Ooosh, gw sekarang belajar, belajar!

*melirik ke arah tumpukan kertas HVS diatas meja*

*melirik ke arah tempat pensil : drawing-pen, pensil, dan penghapus*

Saya : dikit-dikit gambar,nggak apa-apa kan?

*SFX : Pintu terbuka*

Ibu : Hooo… ‘Sedang Sibuk’ yang kamu tempel di depan itu maksudnya sibuk…. ‘Belajar’ ini ya..

Saya : Err.. yeah, ak–aku tergoda sedikit untuk menggambar, jadi…

*SFX : Sobekan kertas*

Saya : NOO~!!!

Contoh konkrit -3-
*Agustus 2007*

Teman : Nah, Fare.. Jadi deadline gambar ini tanggal 5 September nanti ya. Inget lho, dapet tiga ratus ribu kan lumayan.

Saya : Sip deh, sip.

*Oktober 2007*

Saya : Eh, temanya tentang apa sih? Kok gw lupa ya?

Teman : ………….

Saya : Aha, sudahlah. Ini lihat, gw udah nerusin komik sampai halaman empat-tujuh.

Teman : Lho, itu lo punya waktu luang, kenapa nggak ngerjain gambar dari gw aja? Kan dibayar.

Saya : Habis…. Bingung.

————————————————————-

Dari contoh-contoh konkrit diatas, bisa disimpulkan bahwa saya belum bisa mengatur skala prioritas. Sebenarnya masih banyak lagi faktor-faktor skala prioritasku, misalnya : cinta, persahabatan, masalah internal keluarga, dan…. Berat badan (yeah, just you laugh~)

Bayangkan kalau tidak tertanggulangi sampai ujian UN. Bisa-bisa saya kayak di iklan rokok…

Gw lulus!……………… Tapi, tahun depaaan!!!

Aha, siapapun yang membaca tulisanku ini, mohon saran untuk menentukan skala prioritas yang baik yaa~

Makasih sebelumnya.